Jauh sebelum dikenal sebagai pemukiman hijau yang asri dan sejuk, kawasan ini dahulunya merupakan perkampungan yang cenderung gersang dan minim pepohonan. Kala itu, kepedulian terhadap penghijauan lingkungan masih sangat rendah; hanya ada satu-dua warga yang berinisiatif menanam pohon mangga di pekarangan rumah, sementara sebagian besar pekarangan lainnya dibiarkan kering tanpa tanaman peneduh.
Titik balik bersejarah bermula sekitar awal tahun 2010-an. Didorong oleh kesadaran untuk merubah wajah lingkungan yang gersang, para warga lintas batas pekarangan mulai berinisiatif berkumpul, berdiskusi santai, dan saling berbagi wawasan tentang pentingnya penghijauan pekarangan. Dari obrolan guyub inilah, gerakan menanam bibit mangga mulai menyebar dari rumah ke rumah hingga akhirnya menjadi kesepakatan swadaya bersama antar dua rukun tetangga.
Semangat swadaya dan keguyuban warga tersebut berbuah manis. Pada tahun-tahun berikutnya, kawasan ini aktif mewakili lingkungan dalam berbagai ajang perlombaan kebersihan dan ketahanan lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Puncaknya, kekompakan gotong royong ini berhasil mengantarkan paguyuban meraih predikat bergengsi sebagai Best of The Best dalam ajang kompetisi lingkungan antar-kampung.
Transformasi dari kampung biasa menjadi kampung yang luar biasa kini terus dirawat dan dijaga secara mandiri. Keberhasilan menaklukkan kegersangan menjadi bukti nyata bahwa otonomi dan kekompakan dua rukun tetangga mampu melahirkan perubahan besar—membangun kemandirian sosial, merawat keasrian pepohonan mangga, dan mewariskan ekosistem lestari bagi generasi mendatang.